ARTICLE AD BOX
loading...
Lukisan Storming of the Bastille menggambarkan penyerbuan penjara Bastille di Paris, Prancis, nan jadi simbol penindasan politik. Foto/wikipedia
PARIS - Revolusi Prancis nan terjadi pada tahun 1789–1799 adalah salah satu peristiwa paling berhistoris dalam perjalanan umat manusia. Revolusi ini tidak hanya mengubah wajah politik dan sosial Prancis, tetapi juga memberikan inspirasi besar bagi bangsa-bangsa lain nan tengah berjuang melawan penindasan dan rezim absolut.
Revolusi ini memperlihatkan gimana kekuatan rakyat, ketika berasosiasi melawan ketidakadilan, bisa menggulingkan sistem feodal dan kekuasaan absolut raja nan telah beratus-ratus tahun menindas.
Prinsip-prinsip kebebasan, persamaan, dan persaudaraan (liberté, égalité, fraternité) nan lahir dari Revolusi Prancis kemudian menjadi dasar ideologi kerakyatan modern di seluruh dunia.
Berikut adalah poin-poin krusial nan menjelaskan latar belakang, jalannya peristiwa, serta akibat Revolusi Prancis nan sering dijadikan contoh dalam melawan rezim berkuasa nan menindas rakyat:
1. Kondisi Sosial nan Tidak Adil
Salah satu aspek utama penyebab Revolusi Prancis adalah ketidakadilan sosial nan merajalela di bawah sistem Ancien Régime (tatanan lama).
Masyarakat Prancis terbagi dalam tiga golongan alias “Tiga Estate”. Estate pertama adalah kaum gereja (klerus), estate kedua adalah kaum bangsawan, sementara estate ketiga adalah rakyat biasa nan mencakup petani, buruh, pedagang, hingga intelektual kelas menengah (borjuis).
Golongan pertama dan kedua menikmati hak-hak istimewa, termasuk bebas pajak dan kewenangan atas tanah nan luas.
Sebaliknya, golongan ketiga nan merupakan kebanyakan justru menanggung beban pajak berat.
Kesenjangan inilah nan menimbulkan ketidakpuasan besar, terutama ketika rakyat semakin miskin akibat krisis ekonomi.
2. Krisis Ekonomi nan Parah
Kondisi finansial Prancis menjelang Revolusi berada di periode kehancuran. Utang negara membengkak akibat keterlibatan Prancis dalam perang, terutama Perang Tujuh Tahun dan support terhadap Revolusi Amerika.
Raja Louis XVI kemudian meningkatkan pajak untuk menutupi defisit, tetapi beban itu justru hanya jatuh pada rakyat kecil.
Sementara itu, nilai roti—makanan pokok rakyat—melonjak drastis akibat kandas panen. Situasi ini membikin penderitaan masyarakat semakin dalam.
Ketika rakyat tidak lagi bisa membeli kebutuhan dasar, kemarahan pun meledak dan menuntut perubahan.
3. Lemahnya Kepemimpinan Raja Louis XVI
Raja Louis XVI nan berkuasa pada masa itu dikenal lemah, ragu-ragu, dan tidak bisa mengambil keputusan strategis untuk menyelamatkan negara.
Ia lebih sibuk dengan kehidupan istana di Versailles berbareng istrinya, Ratu Marie Antoinette, nan terkenal boros.
Ketidakmampuan raja dalam menghadapi krisis politik dan ekonomi semakin memperburuk keadaan. Alih-alih melakukan reformasi, dia tetap mempertahankan sistem lama nan hanya menguntungkan kaum bangsawan.
Akibatnya, rakyat memandang monarki absolut sebagai simbol utama penindasan nan kudu digulingkan.