Fenomena Soimah Dan Tradisi 'seleksi' Calon Mantu Yang Sudah Berkembang Sejak Dulu

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
ARTICLE AD BOX

- Presenter sekaligus sinden kondang Soimah Pancawati kembali membikin gempar publik setelah blak-blakan mengungkap kebiasaannya dalam 'menguji' calon menantu.

Dalam sebuah podcast berbareng Raditya Dika, Soimah mengaku tidak segan-segan memaki hingga berbicara kasar kepada pacar anaknya nan datang ke rumah. Menurutnya, itu bukan sekadar perilaku spontan, melainkan corak ospek alias uji mental.

“Aku tuh selalu ospek pacar anakku. Tak maki, tak bentak, tak tunjukin sifat asliku. Kalau dia kuat, berfaedah bisa jadi mantu Soimah,” ungkapnya dalam obrolan santuy tersebut.

Pernyataan itu langsung viral dan memancing beragam komentar warganet. Ada nan menilai apa nan dilakukan Soimah hanyalah corak perlindungan ibu kepada anaknya, namun tidak sedikit pula nan menganggap caranya terlalu ekstrem dan justru bisa berakibat pada mental calon menantu.

Baca buletin lainnya tentang Soimah di .

1. Bukan Sesuatu nan Asing

Fenomena ini seolah membuka kembali perbincangan soal tradisi lama ialah peran orangtua, khususnya ibu, dalam menyeleksi pasangan hidup anaknya. Apa nan dilakukan Soimah sebenarnya bukan perihal baru.

Sejak lama, orangtua di beragam bagian bumi merasa perlu menyaring calon menantu. Tujuannya sederhana ialah memastikan calon pasangan anak mereka bisa beradaptasi, menghargai keluarga, dan siap menghadapi dinamika rumah tangga.

Jika ditarik ke akar budaya, tradisi menyeleksi menantu bukanlah sesuatu nan asing. Indonesia apalagi kaya dengan prosesi budaya nan menekankan pentingnya screening calon pasangan sebelum menuju jenjang pernikahan.

2. Madik dan Nindai dalam Tradisi Palembang

Dalam budaya masyarakat Palembang, misalnya, ada tradisi madik dan nindai. Dilansir dari infobudaya.net, tradisi ini dilakukan dengan langkah orangtua laki-laki terlebih dulu datang ke rumah seorang wanita dengan maksud memandang dan menilai (madik dan nindai) gadis nan dimaksud.

Cara mencari menantu seperti ini adalah untuk memandang kepribadian dan kekeluargaanya sehari-hari. Menariknya lagi, tradisi ini dilakukan dengan diwarnai Tari Madik & Nindai.

Dengan langkah itu diharapkan bahwa andaikan si gadis dijadikan menantu, maka dia tidak bakal mengecewakan pihak family dan calon suaminya. Hal itu tentu membikin kehidupan mereka bakal melangkah langgeng sesuai dengan angan pihak family mempelai pria.

3. Mangaririt dalam Budaya Batak

Sementara dalam budaya Batak, ada istilah Mangaririt. Dilansir dari batakkeren.com, Mangaririt merupakan upaya untuk memilih pasangan terbaik bagi anak, baik wanita maupun laki-laki. Istilah ini berasal dari kata ririt nan berfaedah memilih, mempertimbangkan, dan menimbang secara matang.

Meski dalam banyak kasus pihak laki-laki biasanya nan memilih, dalam budaya Batak justru pihak wanita nan lebih teliti dalam proses ini. Ungkapan “ririt ninna paranak, riritan dope parboru” mencerminkan bahwa kedua belah pihak melakukan proses seleksi, namun family wanita sering kali lebih ketat dalam mempertimbangkan calon menantu.

4. Melebur dalam Klan

Dalam budaya Batak, pernikahan dianggap sangat sakral. Wanita nan menikah bakal menjadi bagian dari marga suami secara penuh dengan melebur dalam klan tunggane boru, soripada, dan paniaran marga. Sementara itu, laki-laki bakal menjadi pamoruan alias bagian dari family pihak istri nan diharapkan dapat diandalkan secara sikap dan perbuatan.

Oleh lantaran itu, family dari kedua belah pihak bakal mencari tahu dengan teliti tentang calon menantu, apakah dia menjunjung adat, mempunyai moral nan baik, pekerja keras, serta berasal dari family nan terhormat.

5. Tradisi Masyarakat Betawi

Lain budaya, lain tradisi. Di kalangan masyarakat Betawi, dikenal tradisi ngedelengin. Proses ini seumpama peninjauan awal untuk memastikan calon mempelai betul-betul sesuai. Kadang dilakukan dengan langkah ngintip, ialah mengawasi calon menantu dari kejauhan untuk mengetahui sifat aslinya.

Tak jarang pula family menyewa jasa mak comblang, nan bekerja mempertemukan dan memastikan kecocokan dua keluarga. Dalam beberapa kasus, simbol persetujuan apalagi diwujudkan lewat bingkisan berupa ikan bandeng nan lantas digantungkan di depan rumah sebagai lambang bahwa sang gadis sudah mempunyai peminat. Tradisi ini menekankan sungguh seriusnya masyarakat Betawi dalam memastikan calon menantu tidak dipilih sembarangan.

6. Di India Sampai Jadi Bisnis

Fenomena menyeleksi menantu juga bisa ditemukan di luar negeri. Di India, misalnya, praktik ini apalagi berkembang menjadi sebuah industri. Banyak family menyewa pemasok detektif untuk memata-matai calon menantu. Mereka menelusuri rekam jejak sosial, kebiasaan, hingga kondisi finansial calon pasangan anak.

Bisnis ini tumbuh pesat lantaran tekanan sosial di India begitu tinggi mengenai pernikahan. Peran family sangat dominan, sehingga memastikan calon menantu bersih dari masalah dianggap perihal wajib. Praktik ini menunjukkan bahwa tradisi seleksi menantu bisa mengalami transformasi, dari sekadar budaya budaya menjadi industri modern nan berbobot ekonomis.

Dari kisah Soimah hingga beragam tradisi di Nusantara dan India, satu perihal nan jelas ialah orangtua mempunyai peran besar dalam memastikan calon menantu sesuai harapan. Meski langkah nan ditempuh berbeda, ada nan lewat ritual adat, ada nan lewat ospek mulut pedas ala Soimah. Semua itu intinya tetap sama, ialah melindungi anak dan family dari akibat nan tidak diinginkan.