Tompi Soal Royalti Musik, Kritisi Sistemnya Bukan Orangnya

Sedang Trending 4 hari yang lalu
ARTICLE AD BOX

- Penyanyi Tompi menjadi salah satu musisi nan paling vokal menyuarakan kritik terhadap sistem royalti musik di Indonesia. Meski begitu, dia menegaskan bahwa kritiknya murni ditujukan untuk memperbaiki sistem nan ada, bukan untuk menyerang perseorangan alias individual di dalam lembaga terkait. Menurutnya, konsentrasi utamanya adalah pembenahan sistem nan selama ini dianggap tidak transparan.

"Sekali lagi, kita tidak dalam posisi untuk menyalahin siapapun ya. Semua sudah bekerja keras, even teman-teman di LMK juga sampai sudah bekerja. Cuma caranya kan belum, belum selesai," kata Tompi saat dijumpai di Senayan, Minggu (24/8/2025).

Baca buletin lain tentang Tompi di , yuk! Kalau bukan sekarang, KapanLagi?

1. Musisi Sering Disalahartikan

© KapanLagi.com/Sahal Fadhli

Ia merasa bahwa teriakan para musisi selama ini sering disalahartikan sebagai serangan pribadi. Padahal, nan menjadi biang keladi persoalan adalah sistem nan belum sempurna dan perlu dibongkar.

"Jadi sebenarnya nan kita, nan kita kritisi sekarang, kita teriak-teriak, 'Wah, Anda kok begini, kok begitu,' itu sistemnya. Kita enggak peduli sama orangnya. Ya. Saya dan teman-teman lain tuh enggak peduli, we have no individual issue," katanya.

2. Sayangkan Pihak nan Tersinggung

© KapanLagi.com/Sahal Fadhli

Pelantun 'Sedari Dulu' ini menyayangkan jika ada pihak nan merasa tersinggung secara pribadi atas kritiknya. Menurutnya, jika ada nan merasa demikian, justru orang tersebutlah nan bermasalah, bukan para musisi nan menyuarakan kebenaran.

"Terus pada saat kita ngobrol begini, ada nan tersinggung. nan masalah itu di orangnya itulah. Orang nan kita teriakin sistemnya kok, bahwasanya dia duduk di situ bagian dari sistem ya silakan berbenah lah," katanya.

3. Tak Pernah Serang Personal

© KapanLagi.com/Sahal Fadhli

Tompi kembali menegaskan bahwa dia dan rekan-rekannya tidak pernah menyerang individual dengan kata-kata nan tidak pantas. Permintaan mereka sederhana, ialah agar sistem nan carut-marut ini segera diperbaiki demi kebaikan bersama.

"Kita kan enggak pernah ngatain si A, 'Goblok, tolol,' kan enggak. Kita enggak pernah ngatain itu. Tapi sistemnya enggak bener nih. Ayo dong, benerin gitu," ucapnya.

4. Transparansi adalah Kunci

© KapanLagi.com/Sahal Fadhli

Ia percaya bahwa transparansi adalah kunci dari semua persoalan nan ada saat ini. Kurangnya kejelasan dalam kalkulasi dan pengedaran royalti menjadi sumber utama keresahan para musisi.

"Saya rasa itulah nan terjadi. Itulah nan kita, nan kita kritisi. Sekali lagi ya, kita tidak teriak-teriak untuk orang-orangnya. Karena orang-orang sudah bekerja keras, mungkin ya, tapi sistemnya belum beres. Ya sistemnya nan kudu kita bongkar," kata Tompi.

5. Soal Perpecahan LMK

© KapanLagi.com/Sahal Fadhli

Ketika ditanya apakah ini berfaedah ada perpecahan di dalam tubuh LMK itu sendiri, Tompi mengaku tidak tahu menahu. Ia menyerahkan urusan internal tersebut kepada pihak nan bersangkutan.

"Enggak tahu saya. Itu tanyanya sama mereka," jawabnya singkat.

6. Pilihan Keluar WAMI

© KapanLagi.com/Sahal Fadhli

Meski memilih untuk keluar dari WAMI, dia tetap membuka kesempatan untuk kembali berasosiasi di kemudian hari. Syaratnya pun hanya satu, ialah sistem nan ada kudu sudah beres, rapi, dan masuk akal.

"Tapi intinya jika LMK-nya sudah beres, sistemnya sudah rapi, sudah masuk akal, ya saya bakal masuk lagi," pungkasnya.

7. Serba-serbi Tompi

© KapanLagi.com/Sahal Fadhli

Q: Apa nan menjadi konsentrasi kritik Tompi terhadap royalti musik?

A: Fokus kritik Tompi adalah pada sistem royalti musik nan tidak transparan dan akuntabel.

Q: Mengapa Tompi keluar dari Wahana Musik Indonesia?

A: Tompi keluar dari WAMI sebagai corak protes terhadap masalah royalti nan tidak kunjung selesai.

Q: Apa angan Tompi untuk sistem royalti musik ke depan?

A: Tompi berambisi adanya digitalisasi dan regenerasi pengelola royalti untuk perbaikan sistem.