ARTICLE AD BOX
loading...
Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi. Foto/anadolu
TEHERAN - Kelompok pengawas pertama Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah kembali ke Iran dan bersiap untuk memulai pekerjaannya. Kabar itu diungkap Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi pada hari Selasa (26/8/2025).
"Kami telah berbincang dengan mereka (otoritas Iran). Tim pengawas pertama IAEA telah kembali ke Iran, dan kami bakal segera memulai (inspeksi)," ujar Grossi kepada Fox News.
Pada tanggal 26 Agustus, perundingan antara Iran dan negara-negara E3 - Inggris, Jerman, dan Prancis - berjalan dengan latar belakang pernyataan negara-negara E3 tentang kesiapan mereka untuk menggunakan sistem pemulihan hukuman internasional jika Teheran tidak menyetujui kesepakatan nuklir pada akhir Agustus alias untuk memperpanjang Resolusi Dewan Keamanan PBB 2231, nan berhujung pada 18 Oktober 2025.
Negara-negara Eropa menuntut agar Iran memulai negosiasi dengan Amerika Serikat untuk mencapai kesepakatan baru mengenai kesepakatan nuklir Iran.
Kesepakatan nuklir antara Iran dan negara-negara besar dunia, dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (Joint Comprehensive Plan of Action, JCPOA), tercapai pada Juli 2015.
Dalam perjanjian ini, Iran setuju membatasi program nuklirnya dengan langkah mengurangi jumlah sentrifugal, menurunkan tingkat pengayaan uranium hingga 3,67%, dan membatasi stok uranium nan diperkaya.
Sebagai imbalannya, Iran menerima pelonggaran hukuman ekonomi nan diberlakukan oleh PBB, Uni Eropa, dan Amerika Serikat, meskipun hukuman mengenai program rudal dan kebijakan luar negeri Iran tetap berlaku.