Jerman Bakal Larang Pelajar Ber-handphone Ria Di Sekolah?

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Jakarta -

Di sekitar 100 meter dari pintu gerbang sekolah menengah Dalton-Gymnasium di Alsdorf, dekat Kota Aachen, Jerman, setiap pagi ada sebuah ritual nan tidak biasa.

Di sinilah pemisah lingkungan sekolah dimulai. Sejak minggu ini, di gerbang itu, nyaris 700 siswa-siswi wajib mematikan telepon seluler mereka dan menyimpannya di dalam tas mereka.

Smartphone hanya boleh kembali online setelah lonceng tanda usainya pelajaran berbunyi.

Ketua organisasi pelajar berumur 16 tahun, Lena Speck, sendiri terkejut memandang sungguh lancarnya hari pertama pemberlakuan larangan handphone. Ia berbicara kepada DW: "Sejauh ini, kurang lebih semuanya melangkah lancar. Pagi ini, saya tidak memandang ada nan sampai handphone-nya disita. Bahkan, terasa bahwa siswa-siswa lebih banyak berbincang satu sama lain. Banyak dari kami nan merasa larangan handphone itu tidak begitu buruk."

Catatan hari pertama: Dua pelanggaran. Salah satu di antaranya: Ada seorang siswa berumur 16 tahun membuka smartphone-nya di tengah pelajaran Bahasa Jerman.

Sebagai hukuman, handphone-nya dimasukkan ke dalam sampulsurat dan disimpan dalam brankas di instansi sekolah. Keesokan harinya, orang tuanya bisa mengambilnya. Hukuman ini memicu banyak obrolan di kalangan siswa.

Namun, ketua pelajar lainnya, Klara Ptak nan berumur 17 tahun, mendukung kebijakan tegas ini. Ia mengatakan kepada DW: "Ini seperti melanggar lampu merah. Konsekuensinya kudu tegas, jika tidak, orang tidak bakal patuh. Kalau saya tahu handphone saya bakal disita sepanjang sore dan malam, saya mungkin bakal lebih alim pada patokan ini."

Sekolah Dalton-Gymnasium di Alsdorf menguji coba larangan handphone hingga liburan musim panas - sebuah inisiatif nan diberi nama "Smart ohne Phone" alias dalam bahasa Indonesia "Cerdas tanpa Telepon".

Banyak sekolah di Jerman sekarang berupaya mengikuti langkah ini, demi memastikan para siswa mengikuti pelajaran, bukannya sibuk dengan smartphone mereka.

Namun, meski beberapa negara bagian telah mulai mengambil langkah ini, banyak pemerintah wilayah lainnya di Jerman tetap enggan untuk menetapkan standar nan seragam.

Hessen menjadi pelopor, berencana untuk melarang penggunaan handphone pribadi di sekolah dasar setelah liburan musim panas, dan dengan beberapa pengecualian, di sekolah menengah.

Banyak pembimbing di sekolah-sekolah merasa bahwa larangan handphone ini sangat tepat. Andrea Vondenhoff, nan mengajar Bahasa Spanyol dan Inggris di Alsdorf.

Ia percaya larangan ini bakal diterima dengan sigap di Alsdorf dan segera menjadi perihal nan biasa. "Di kelas, terlihat bahwa anak-anak lebih santuy dan tidak terganggu. Pelanggaran paling banyak terjadi di tingkat SMA, sedangkan anak-anak nan lebih muda sangat patuh," lapor Vondenhoff.

"Sebagai guru, untung terbesar adalah tidak perlu cemas tentang apa nan mungkin dilakukan siswa dengan handphone mereka di bawah meja," imbuhnya.

Dalton-Gymnasium bukanlah sekolah nan baru saja memikirkan perubahan ini. Sekolah ini telah menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin dilakukan.

Pada tahun 2013, mereka meraih Deutscher Schulpreis (Penghargaan Sekolah Jerman) untuk konsep pembelajaran nan mengedepankan tanggung jawab dan kemandirian.

Tiga tahun kemudian, sekolah ini jadi pertama di Jerman nan sukses menerapkan model elastisitas waktu (Gleitzeit), nan menyesuaikan waktu sekolah dengan ritme biologis siswa.

Pada tahun lalu, sekolah ini juga meraih penghargaan untuk konsep medianya.

Sekolah ini mengedepankan digitalisasi dengan menyediakan tablet bagi setiap siswa, dilengkapi ruang layar hijau (greenscreen) dan studio podcast.

Beberapa siswa juga berkedudukan sebagai "Tablet Scouts" nan membantu mendukung kebutuhan teknologi dan mengatasi masalah teknis.

Kepala sekolah Martin Wller menanggapi kekhawatiran bahwa larangan handphone bisa menghalang kemajuan digital siswa, dengan mengatakan: "Ini bukan soal melarang digitalisasi, melainkan mengatasi gangguan nan ditimbulkan oleh handphone pribadi."

Sebagai tambahan, ada kemungkinan akibat positif lainnya: Berkurangnya kasus cyberbullying.

Klaus Zierer, seorang mahir pendidikan dan pengajar di Universitas Augsburg nan telah meneliti akibat larangan handphone di sekolah, mengatakan bahwa di sekolah-sekolah nan menerapkan larangan ini dengan pendampingan pedagogis, tingkat kesejahteraan sosial siswa meningkat.

"Larangan handphone mengurangi waktu untuk cyberbullying, nan sering terjadi di sekolah, seperti dengan adanya foto-foto di toilet sekolah," ujar Zierer.

Negara-negara Eropa lainnya, seperti Prancis dan Italia, sudah lama melarang handphone di sekolah, dan pada tahun lalu, Inggris dan Belanda ikut bergabung.

Namun, di Jerman, tetap ada penolakan. Banyak wakil siswa dan serikat pekerja nan skeptis, beranggapan bahwa larangan ini hanya bakal memindahkan masalah ke waktu senggang dan tidak realistis. Menurut mereka, semestinya siswa-siswi diajari untuk menggunakan handphone mereka dengan bijak di sekolah.

Zierer menanggapi perihal ini dengan tegas: "Anak usia sepuluh, sebelas, alias dua belas tahun tidak dapat bertanggung jawab dengan handphonenya. Itu beban nan berat."

Ia mengingatkan bahwa larangan pada anak-anak, seperti larangan alkohol, narkoba, alias peraturan di jalan raya, adalah bagian dari tanggung jawab generasi nan lebih tua untuk melindungi generasi nan lebih muda.

"Larangan untuk anak-anak pada usia tertentu bukanlah perihal nan buruk, justru ini adalah corak tanggung jawab kita untuk melindungi mereka," ujarnya.

Sebuah studi dari Inggris mendukung Zierer: Para siswa berprestasi rendah menunjukkan peningkatan studi, setelah pelarangan handphone.

Di Jerman, studi menunjukkan bahwa siswa nan berumur 16 tahun ke atas bisa menghabiskan hingga 70 jam seminggu untuk berselancar di internet.

Zierer mengingatkan: "Kita kudu menawarkan siswa-siswi sesuatu nan tidak mereka dapatkan di kehidupan mereka sehari-hari. Mereka sudah cukup mendapatkan waktu di depan layar di rumah. Sebaliknya, mereka butuh lebih banyak gerakan, interaksi, dan pengalaman sosial untuk mengembangkan empati dan keahlian sosial."

(ita/ita)

Loading...

Hoegeng Awards 2025

Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini